Selasa, 22 Oktober 2013

RI Siap Luncurkan Satelit Remote Sensing Kedua

Teknologi pengindraan jauh (remote sensing) terus berkembang. Jika pada 1987 teknologi pemetaan wilayah ini hanya mampu menjangkau radius 30 meter secara akurat, kini seiring berkembangnya teknologi, keakuratan peta sudah mencapai 0,5 meter.

Penggunaannya pun meluas. Pada masa-masa awal, remote sensing digunakan sebatas untuk mengamati cuaca. Penggunaannya kemudian meluas ke ranah militer sebagai satelit mata-mata dalam menentukan peta wilayah. Kini, remote sensing telah dimanfaatkan oleh masyarakat sipil.

Misalnya, peta melalui citra satelit ini sudah bisa dimanfaatkan untuk bidang kesejahteraan masyarakat, di antaranya pengembangan sektor pertanian dan kelautan oleh nelayan.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, di sela acara ARCS Bridging Sustainable Asia, Selasa 22 Oktober 2013.

"Sekarang, kami bisa membantu nelayan untuk menentukan keberadaan ikan. Kalau dulu melaut jauh sampai ke tengah, belum tentu ada ikannya. Dengan citra satelit, koordinat ikan bisa ditentukan lebih akurat. Ini akan membantu para nelayan," ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut akan disampaikan pengembangan-pengembangan teknologi di negara-negara Asia. Indonesia sendiri saat ini sudah memiliki dua stasiun remote sensing, yakni di Pare-pare dan Rumpin, Bandung. Penggunaannya pun dinilai Gusti Muhammad Hatta sudah efektif.

Evakuasi

Selain itu, keberadaan remote sensing dikatakannya sangat penting dalam melakukan evakuasi bencana. "Seperti Jepang yang sering dilanda tsunami. Saya kira teknologi satelit ini perlu diadopsi," imbuhnya.

Sementara itu, Indonesia, saat ini memiliki teknik evakuasi vertikal dan horizontal. Itu untuk mengurangi kecelakaan, sehingga jumlah korbannya bisa diminimalisasi.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Bambang S Tejasukmana, mengatakan, hasil dari pemetaan satelit itu pun bisa dimanfaatkan oleh kalangan instansi pemerintah daerah yang ada.

Dari dua stasiun itu dibangun bank data yang bisa diakses oleh pemda. "Kami membangun bank data. Untuk itu, kalau ada yang butuh bisa langsung mengakses bank data itu," katanya.

Namun, kesulitan utama di Indonesia adalah keberadaan awan. Untuk itu, data remote sensing harus sering direkam.

Indonesia akan kembali meluncurkan dua buah satelit remote sensing dari India. Rencananya, peluncuran satelit LAPAN A2 akan digelar pada April-Mei 2014. "Tapi, terkendala India yang terus mengundur programnya," ujar Bambang.

Dipilihnya India, karena bisa memberikan ongkos yang lebih murah dalam peluncuran. "Sekarang itu, peluncurannya US$300 ribu untuk setiap satelit. Harga dihitung per kilogram. Totalnya sekitar US$600 ribu (Rp6,77 miliar)" ujarnya.

Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari budayakan berkomentar baik